Merawat Ranah Pantura: Menakar Dedikasi Dr. Ahmad Maskur Subaweh dalam Kelestarian Tradisi Lisan

  • Bagikan
Merawat Ranah Pantura: Menakar Dedikasi Dr. Ahmad Maskur Subaweh dalam Kelestarian Tradisi Lisan (Foto: Red)

Karawang, tanganrakyat.id – Di tengah derasnya arus digitalisasi yang kerap mengikis eksistensi budaya lokal, kehadiran akademisi yang konsisten menengok akar rumput menjadi angin segar yang krusial. Salah satu sosok yang menonjol dalam geliat pelestarian ini adalah Dr. Ahmad Maskur Subaweh, M.Pd., seorang peneliti dan dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Melalui rekam jejak akademisnya, ia membuktikan bahwa kebudayaan lokal Jawa Barat khususnya wilayah Pantai Utara (Pantura) bukan sekadar masa lalu yang usang, melainkan sumber pengetahuan yang kaya akan nilai filosofis dan karakter bangsa.

​Langkah konkret dedikasi tersebut tercermin kuat dalam urat nadi penelitiannya, termasuk disertasi doktoralnya di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada tahun 2022.

Dr. Ahmad Maskur membedah tradisi lisan Aurodan pada Jamaah Tarekat Asy-Syahadatain Cirebon. Penelitian ini bukan sekadar pemenuhan syarat akademis, melainkan sebuah upaya transformatif untuk mendokumentasikan nilai religius lokal menjadi buku pengayaan pengetahuan. Upaya ini sangat strategis dalam menjembatani warisan lisan masa lalu agar tetap relevan dan dapat dikonsumsi secara literer oleh generasi masa kini.

Dr. Ahmad Maskur Subaweh (Foto: Istimewa)

​Tidak berhenti di menara gading ruang kuliah, kontribusi Dr. Ahmad Maskur juga nyata dalam dunia tata kelola pendidikan tinggi formal. Pengalamannya menakhodai STKIP Nahdlatul Ulama Indramayu (yang kini bertransformasi menjadi Universitas Darul Ma’arif Indramayu), serta kiprah aktifnya sebagai staf pengajar di Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA), menunjukkan komitmennya dalam mentransfer ilmu. Melalui mimbar-mimbar akademik inilah, ia menanamkan sensitivitas budaya kepada para mahasiswa selaku calon pendidik masa depan.

​Kekayaan pemikiran sang doktor kian benderang lewat karya terbarunya, buku “Kearifan Lokal dalam Tradisi Lisan” yang terbit pada tahun 2024. Buku tersebut memuat analisis fonologi yang unik mengenai kemiripan bahasa Jawa dialek Indramayu dengan dialek Lumajang, hingga telaah mendalam mengenai pendidikan karakter dalam teks puisi nadoman. Melalui publikasi ini, ia berhasil membuka cakrawala baru bahwa dialektika kelisanan Pantura memiliki keterkaitan sosiolinguistik yang luas dan menyimpan potensi besar sebagai media pembentuk moral generasi muda.

​Pada akhirnya, apa yang diperjuangkan oleh Dr. Ahmad Maskur Subaweh adalah sebuah peta jalan (roadmap) adaptif bagi masa depan sastra dan budaya lokal.

Dengan mengawinkan kajian tradisi lisan dengan model pembelajaran modern—seperti metode Jigsaw, Mind Mapping, hingga Nature Learning, ia menawarkan solusi konkret agar generasi Z dan Alpha tidak asing dengan tanah kelahirannya. Indonesia hari ini membutuhkan lebih banyak akademisi pejuang seperti beliau, yang melangkah maju ke masa depan tanpa sedikit pun meninggalkan jati diri dan kearifan lokal yang membentuknya.

 

Penulis: Dr. Ahmad Maskur Subaweh (Foto: Red)Editor: Nda Yaya
  • Bagikan

Comment