Skandal “Raja Sidoarjo”: Dirut PLN NPS Jakfar Sadiq Digoyang Demo Karyawan, Isu Arogansi Meledak!

  • Bagikan
Skandal "Raja Sidoarjo": Dirut PLN NPS Jakfar Sadiq Digoyang Demo Karyawan, Isu Arogansi Meledak! (Foto: Istimewa)

Sidoarjo, tanganrakyat.id – Gejolak hebat mengguncang kantor pusat PLN Nusantara Power Services (NPS) di Sidoarjo setelah ratusan pegawai yang tergabung dalam Serikat Pekerja (SP) menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran pada Senin (29/12/2025).

Aksi ini dipicu oleh kemarahan karyawan terkait pembayaran bonus kinerja tahun 2024 yang dinilai jauh dari kata layak dan tidak sebanding dengan lonjakan laba perusahaan yang fantastis. Di tengah kepulan kekecewaan tersebut, muncul testimoni pedas dari internal pegawai yang menyebut gaya kepemimpinan sang Direktur Utama, Jakfar Sadiq, sangat otoriter, sombong, bahkan kerap memposisikan dirinya layaknya seorang “raja” yang haus pelayanan di tengah penderitaan kesejahteraan bawahannya.

​Ketegangan mencapai puncaknya saat Jakfar Sadiq memberikan respons yang meledak-ledak ketika dikonfirmasi mengenai tudingan arogansi tersebut pada Selasa (30/12/2025).

Bukannya memberikan klarifikasi yang menyejukkan, Jakfar justru balik menyerang dengan tuduhan fitnah dan membawa narasi dosa kepada awak media.

Sikap defensif sang Dirut ini dinilai publik justru semakin mempertegas kesan antikritik dan mengonfirmasi isu “tangan besi” yang selama ini berhembus di koridor kantor PLN NPS, hingga memicu desakan dari para pegawai agar jajaran direksi segera dirombak total atau refreshment.

​Anehnya, gerakan protes yang seharusnya menjadi konsumsi publik sebagai bentuk transparansi ini terkesan coba “dikurung” oleh pihak Serikat Pekerja sendiri.

Ketua SP PLN NPS, Abi Kuswo, secara mengejutkan meminta identitas wartawan dan menegaskan bahwa aksi damai tersebut sejatinya dilarang untuk disebarluaskan ke pihak eksternal atau media.

Upaya pembungkaman informasi ini menimbulkan tanda tanya besar: ada rahasia gelap apa di balik manajemen PLN NPS sehingga aksi protes massal dan spanduk berisi jeritan kesejahteraan “Laba Naik, Pendapatan Turun” harus disembunyikan dari mata masyarakat?

Baca juga:

Akun Dj Donny Kritik Tajam Utang PLN Rp711 Triliun, Semakin ‘Boncos’ di Era Darmo dan Yusuf Didi

​Kini, bola panas berada di tangan pemegang saham dan publik yang menanti keberanian PT PLN (Persero) untuk mengevaluasi kepemimpinan Jakfar Sadiq.

Dengan spanduk-spanduk protes yang masih membekas di halaman kantor Juanda, tuntutan para pegawai bukan lagi sekadar soal angka bonus, melainkan martabat pekerja yang merasa ditindas oleh kepemimpinan yang dianggap “sakit”.

Jika transparansi disumbat dan kesejahteraan dikhianati saat laba melesat, maka perubahan kepemimpinan di PLN NPS bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan sebelum stabilitas energi nasional ikut terganggu oleh konflik industrial yang berlarut-larut.

Penulis: Kang Prabu
  • Bagikan

Comment