Perjalanan Iman Nabi Ibrahim dan Kegagalan Kita “Membaca” Langit

  • Bagikan
KH Zaenal Abidin Syuja'i (Foto: Dok. pribadi)

Jakarta, tanganrakyat.id – Di suatu malam yang sunyi Nabi Ibrahim menatap langit. Ia tidak sekadar melihat bintang. Ia menguji makna di baliknya. Apa yang tampak bercahaya belum tentu layak disembah.

Lebih dari itu, apa yang memukau belum tentu pantas menjadi pusat pengabdian. Dari situlah iman lahir. Bukan dari warisan, tetapi dari keberanian mempertanyakan.

Surah Al-An’am ayat 75-80 merekam momen langka dalam sejarah spiritual manusia, ketika iman dibangun melalui proses intelektual yang jujur. Ibrahim “mencoba” bintang, bulan, dan matahari sebagai kandidat Tuhan, lalu menolaknya satu per satu ketika semuanya tenggelam.

Sebuah metode berpikir yang sederhana, tetapi menghancurkan fondasi kesyirikan, yakni bahwa Tuhan tidak mungkin tunduk pada hukum terbit dan tenggelam.

Namun di sinilah ironi kita hari ini. Kita hidup di zaman yang justru memproduksi “tuhan-tuhan baru” dalam jumlah tak terbatas, dan anehnya kita menyembahnya tanpa proses sebagaimana yang dilakukan Nabi Ibrahim.

Kekuasaan, jabatan, popularitas, bahkan simbol-simbol keagamaan itu sendiri seringkali kita angkat ke derajat yang nyaris sakral.

Kita tahu semuanya “terbit dan tenggelam”, tetapi tetap saja menggantungkan makna hidup padanya.

Politik, misalnya, telah menjadi salah satu matahari yang paling menyilaukan. Ia menjanjikan terang, tetapi sering meninggalkan gelap.

Para elite datang dengan cahaya retorika, dielu-elukan seperti penyelamat, lalu tenggelam dalam skandal atau kompromi.

Namun masyarakat tidak belajar. Setiap kali “matahari” baru muncul, kita kembali silau, seolah lupa bahwa yang sebelumnya juga pernah bersinar dengan cara yang sama.

Di ruang sosial, kita menyaksikan hal serupa. Popularitas di media sosial menjelma menjadi “bintang-bintang kecil” yang dipuja tanpa kritik. Ukuran kebenaran bergeser. Bukan lagi pada substansi, tetapi pada seberapa terang sorotan publik.

Orang yang viral dianggap benar dan yang sunyi dianggap tidak relevan. Padahal Ibrahim sudah memberi pelajaran sederhana, yaitu bahwa cahaya bukan jaminan kebenaran.

Lebih tragis lagi, bahkan agama pun tidak luput dari proses “objektifikasi”. Simbol-simbol keagamaan dijadikan alat legitimasi, bukan jalan pencarian. Kita lebih sibuk mempertahankan identitas daripada menguji kedalaman iman.

Seolah-olah iman cukup diwarisi, bukan diusahakan. Seolah-olah keyakinan tidak perlu diuji, padahal justru di situlah letak kekuatannya.

Apa yang hilang dari kita adalah keberanian Ibrahim untuk berkata, “Aku tidak menyukai yang tenggelam.” Sebuah kalimat sederhana, tetapi radikal. Ia bukan hanya menolak benda langit, tetapi juga menolak segala bentuk ketergantungan pada yang fana.

Hari-hari ini, kita justru melakukan sebaliknya. Kita sadar bahwa kekuasaan itu sementara, tetapi tetap mengkultuskannya. Kita tahu materi tidak abadi, tetapi menjadikannya ukuran keberhasilan.

Kita paham manusia bisa salah, tetapi memperlakukannya seperti tak tersentuh kritik. Kita hidup dalam kesadaran yang setengah matang: tahu, tetapi tidak berani menarik kesimpulan.

Di titik ini, kisah Ibrahim bukan sekadar cerita teologis. Ia adalah kritik sosial yang telanjang. Ia mempertanyakan cara kita beriman, cara kita berpikir, dan cara kita memaknai dunia. Ia mengingatkan bahwa tauhid bukan sekadar pengakuan verbal, tetapi hasil dari pembebasan diri dari segala bentuk “tuhan palsu”.

Dan mungkin, masalah terbesar kita bukan karena tidak melihat tanda-tanda Tuhan di alam, tetapi karena kita berhenti membaca. Langit masih sama seperti yang dilihat Ibrahim.

Bintang pun masih bersinar, bulan masih berpendar, dan matahari masih terbit dan tenggelam.
Tetapi kita tidak lagi menjadikannya pelajaran dan hanya latar belakang bagi rutinitas yang kosong makna.

Ibrahim menemukan Tuhan justru dengan menolak apa yang tampak paling terang. Kita, sebaliknya, kehilangan arah karena terlalu mudah terpikat oleh cahaya.

Baca juga:

Aat Surya Safaat, Pemuda Desa Yang Bertemu Dengan Tokoh-tokoh Dunia

Maka pertanyaannya sederhana, sekaligus mengganggu: Di antara sekian banyak “cahaya” yang kita kejar hari ini, berapa yang sebenarnya hanya sedang menunggu waktu untuk tenggelam?

Zaenal Abidin Syuja’i adalah Pengasuh Pondok Pesantren Mathla’ul Anwar Kota Serang, Banten.

Penulis: Zaenal Abidin Syuja’i
  • Bagikan

Comment