Jayapura, Papua, tanganrakyat.id – Duka mendalam menyelimuti dunia pendidikan dan kesehatan Indonesia. Enam pahlawan tanpa tanda jasa, guru dan tenaga kesehatan asal Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan menjadi korban kebiadaban Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua. Mereka diserang dan dibakar hidup-hidup pada Jumat (21/3) sore, sekitar pukul 17.00 WIT.
Para korban yang mengabdi di SD YPK Anggruk dan fasilitas kesehatan setempat, terdiri dari dua guru asal Kupang, tiga dari Flores, dan satu dari Atambua. Identitas mereka yang telah terkonfirmasi adalah Sdri. T (guru), Sdri. F (guru), Sdr. F (guru), dan Sdri. I (tenaga kesehatan). Dua korban lainnya masih dalam proses identifikasi.
Klaim OPM dan Tuduhan Intelijen
Organisasi Papua Merdeka (OPM) mengklaim bertanggung jawab atas aksi keji ini. Mereka menuduh para guru dan tenaga kesehatan tersebut sebagai agen intelijen yang ditempatkan oleh TNI/Polri di Papua. Tuduhan ini dilontarkan setelah mereka menyaksikan wawancara Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, yang menyebutkan bahwa semua guru dan tenaga kesehatan di Papua adalah bagian dari TNI.
“Setelah wawancara Panglima TNI, kami perintahkan pasukan untuk mengeksekusi enam anggota TNI yang menyamar sebagai guru dan membakar sekolah di Distrik Anggruk,” demikian pernyataan resmi dari OPM.
OPM juga memperingatkan Presiden Prabowo Subianto dan Panglima TNI untuk tidak melakukan serangan balasan terhadap warga sipil di Distrik Anggruk.
Mereka mengklaim bahwa pasukan mereka telah kembali ke markas di pegunungan.
Dampak dan Evakuasi Warga
Tragedi ini memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Para guru, tenaga kesehatan, warga, dan anak-anak dari beberapa distrik di Yahukimo, seperti Heriyapini, Kosarek, Ubalihi, Nisikni, Walma, dan Kabiyanggama, terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman.
Reaksi dan Kecaman
Insiden ini menuai kecaman keras dari berbagai pihak. Tindakan brutal KKB ini dinilai sebagai pelanggaran hak asasi manusia yang tidak dapat dibenarkan. Masyarakat Indonesia, khususnya dari NTT, merasa sangat kehilangan atas gugurnya para pahlawan pendidikan dan kesehatan yang telah mengabdikan diri di daerah terpencil.
Baca juga:
Pertamina Gandeng Mitra Lokal, Tingkatkan Kualitas Layanan BBM di Papua
Pemerintah dan aparat keamanan diharapkan segera mengambil tindakan tegas untuk mengusut tuntas kasus ini dan menjamin keamanan warga sipil di Papua.













Comment