Cilegon, Banten, tanganrakyat.id – Perjalanan penuh tekad dua warga Sampang, Madura, menuju Mekkah dengan berjalan kaki harus berakhir lebih cepat dari yang diharapkan. Muhammad Muheb Alfarizi (35) dan Anas Mahfud (40), yang memulai perjalanan mereka pada 1 Februari 2025, terpaksa menghentikan langkah mereka di Cilegon, Banten, setelah kaki Muheb mengalami pembengkakan serius.
“Sebenarnya, saya tetap ingin melanjutkan perjalanan ini. Namun, risiko kesehatan saya terlalu besar jika saya memaksakan diri,” ungkap Muheb dengan nada sedih, Selasa (25/3/2025).
Perjalanan yang semula direncanakan memakan waktu 8 hingga 12 bulan ini harus terhenti di tengah jalan. Muheb menjelaskan bahwa selain masalah kesehatan, ia juga merasa ada ketidakcocokan dengan rekannya, Anas Mahfud, dan mendapat desakan kuat dari keluarganya untuk segera pulang.
“Saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua relawan yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama perjalanan kami. Tanpa dukungan mereka, perjalanan ini tidak akan mungkin sejauh ini,” kata Muheb dengan suara bergetar.
Sebelumnya, Muheb dan Anas memulai perjalanan mereka dengan semangat membara, membawa bendera Merah Putih sebagai simbol cinta tanah air. Mereka berbekal Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK), dengan rencana mengurus paspor dan visa di perbatasan Singapura.
“Kami bertekad untuk mencapai Mekkah dengan berjalan kaki, sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT,” ujar Muheb saat memulai perjalanan mereka.
Perjalanan mereka dipenuhi dengan tantangan, mulai dari cuaca ekstrem, medan yang berat, hingga masalah logistik. Namun, mereka selalu mendapatkan dukungan dari masyarakat di sepanjang jalan yang mereka lalui.
“Kami sangat terharu dengan kebaikan dan keramahan masyarakat Indonesia. Banyak yang menawarkan tempat istirahat, makanan, dan minuman. Dukungan mereka memberikan kami kekuatan untuk terus melangkah,” cerita Muheb. Namun, takdir berkata lain. Pembengkakan kaki yang dialami Muheb semakin parah, dan setelah berkonsultasi dengan tim medis, ia memutuskan untuk menghentikan perjalanan.
“Ini adalah keputusan yang sangat berat bagi saya. Impian saya untuk mencapai Mekkah dengan berjalan kaki harus kandas. Namun, saya percaya bahwa Allah SWT memiliki rencana yang lebih baik,” kata Muheb dengan mata berkaca-kaca.
Anas Mahfud, rekan perjalanan Muheb, juga merasa sedih dengan keputusan ini. “Kami telah melalui banyak hal bersama-sama. Saya sangat menghormati keputusan Muheb, dan saya berharap ia segera pulih,” kata Anas.
Baca juga:
Buah Kurma Milik Haji Warsa Dibagikan Gratis Untuk Masyarakat
Kisah perjalanan Muheb dan Anas menjadi inspirasi bagi banyak orang. Tekad dan semangat mereka untuk mencapai impian, meski dihadapkan dengan berbagai rintangan, patut diacungi jempol. Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa setiap impian membutuhkan pengorbanan, dan terkadang, takdir memiliki rencana yang berbeda.












Comment