Indramayu , Jawa Barat, tanganrakyat.id – Di tengah duka mendalam atas tragedi yang menimpa seorang pendaki bernama Juliana di Gunung Rinjani, sebuah inisiatif unik dan penuh makna muncul dari seorang spiritualis “SUNYI AGUNG” sekaligus kolektor keris asal Indramayu dan juga Dosen, Jajang Arifin. Bukan sekadar ungkapan belasungkawa biasa, melainkan sebuah mahakarya spiritual yang menjelma menjadi penjaga kisah abadi.
Jajang Arifin, yang juga seorang dosen di salah satu universitas Wiralodra di Indramayu, mempersembahkan sepasang keris kembar yang ia namai “Juliana” untuk mengenang kepergian sosok tersebut. Yang membuat keris ini begitu istimewa adalah materialnya: seluruhnya terbuat dari kayu Sulaiman Gunung, jenis kayu langka yang konon hanya tumbuh di lereng-lereng mistis gunung.
“Untuk mengenang meninggalnya Juliana di Gunung Rinjani, saya namai keris kembar ini ‘Juliana’,” tutur Jajang Arifin, sembari menunjukkan dua bilah keris yang terpampang di hadapan mata. Kecantikan dan keindahannya benar-benar luar biasa, memancarkan aura magis yang kuat,” ucap Jajang Arifin, Rabu Pahing. (9Juli 2025).
Baca juga:
Pendaki Hilang Misterius di Gunung Manglayang: Tim SAR Terus Berjuang di Tengah Kabut dan Misteri
Jajang Arifin kemudian menjelaskan filosofi mendalam di balik nama dan setiap detail keris tersebut. Warangka atau sarung kerisnya berukir corak floral, menampilkan gambar bunga edelweis, “bunga keabadian” yang hanya dapat ditemukan di ketinggian Rinjani. Semakin menambah kekhasan Rinjani, warangka ini didasari oleh kayu Sulaiman yang langka, sama halnya dengan handle atau gagangnya.
Bilah kerisnya, dengan lekuk-lekuk anggunnya, melambangkan kelok alur pendakian Rinjani yang penuh tantangan namun menyimpan keindahan tak terhingga. Setiap guratan pada bilah seolah merekam setiap langkah dan napas dalam perjalanan menuju puncak.
Namun, kisah keris “Juliana” tak berhenti di situ. Jajang Arifin memiliki rencana sakral: ia akan melakukan ritual penyucian langsung pada malam Jumat Kliwon depan dengan menggunakan tujuh mata air kembang.
Ritual ini akan semakin mengukuhkan ikatan spiritual keris dengan kisah Juliana dan Rinjani.
Lebih dari sekadar keris, “Juliana” adalah sebuah medium. Sebuah persembahan yang tak hanya mengenang tragedi, tetapi juga menuturkan kembali keindahan dan misteri Rinjani yang abadi. Keris ini menjadi simbol penghormatan, pengingat akan kerapuhan manusia di hadapan alam yang perkasa, sekaligus keabadian sebuah kenangan yang terukir di kaki gunung suci.
Keris “Juliana” bukan hanya sepasang senjata tradisional, melainkan sebuah jembatan antara dunia nyata dan dimensi spiritual, membawa kisah Juliana dan pesona Rinjani ke dalam narasi yang tak lekang oleh waktu.
Baca juga:
Pendaki AWG Berhasil Kibarkan Bendera Palestina di Puncak Gunung Rinjani
Mungkinkah keris ini akan menjadi penanda baru di tengah legenda-legenda Rinjani yang telah ada? Hanya waktu yang akan menjawabnya, seiring dengan ritual penyucian yang akan dilaksanakan dimalam Jum’at Kliwon.













Comment