Jakarta, tanganrakyat.id – Kinerja Basarnas dalam penanganan insiden jatuhnya pendaki asal Brasil, Juliana Marins, di Gunung Rinjani mendapat apresiasi tinggi dari Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Daniel Mutaqien Syafiuddin. Namun, Daniel juga menyoroti satu “kekurangan” krusial di era digital: minimnya dokumentasi visual. Hal ini, menurutnya, berpotensi memicu persepsi keliru di mata publik.
Dalam rapat kerja dengan Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP/Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syaugi, Daniel mengungkapkan bahwa tragedi Rinjani bukan hanya menjadi perhatian nasional, tetapi juga internasional, bahkan sampai ke Amerika Latin. Ia turut menanggapi narasi yang berkembang di media, yang seolah-olah meremehkan upaya tim penyelamat resmi.
“Ada pernyataan yang menyebut kalau saja ia hadir sejak hari pertama, korban mungkin bisa diselamatkan. Ini tentu secara tidak langsung menyampingkan peran Basarnas dan tim SAR resmi yang sudah bergerak dari awal,” tegas Daniel. Senen Kliwon, (7/7).
Medan Ekstrem dan Bahaya di Rinjani Bukan Isapan Jempol
Sebagai mantan pegiat alam bebas, Daniel memahami betul betapa ekstremnya medan di kawasan Cemara Tunggal, lokasi kejadian. “Kalau bicara vertikal 200 hingga 600 meter di jalur itu, ya fatal. Batu, pasir, curam. Bukan soal gampang dijangkau,” jelasnya, menepis anggapan bahwa evakuasi adalah hal mudah.

Menurut Daniel, satu-satunya “kekurangan” dari Basarnas adalah sifat tim yang “tidak narsis.” Meskipun bekerja tanpa pamrih, di era digital seperti sekarang, hal itu justru bisa menjadi bumerang.
“Tim Basarnas ini tidak narsis. Tapi sayangnya, di era digital sekarang, publik menuntut visual—video, foto, konten—untuk percaya bahwa upaya penyelamatan benar-benar dilakukan,” ujarnya.
Maka dari itu, ia mendorong Basarnas untuk membekali diri dengan peralatan dokumentasi sejak hari pertama operasi penyelamatan. Tujuannya jelas, untuk mencegah munculnya narasi negatif yang bisa merusak citra lembaga. “Jangan sampai lembaga resmi negara seperti Basarnas dianggap lamban, padahal mereka sudah bekerja maksimal sejak awal.”
Baca juga:
Kang Supardi, Wartawan Muda Penuh Berkah
Daniel berharap, kejadian Rinjani ini menjadi pelajaran berharga dan tidak sampai memengaruhi penilaian internasional terhadap kinerja Basarnas, seperti dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).
“Semoga ke depan visualisasi kinerja bukan untuk narsis, tapi sebagai bentuk transparansi dan edukasi publik. Karena kerja keras Basarnas layak diapresiasi, bukan dipertanyakan,” tutupnya.












Comment